Sharing dengan konselor (K'ganda)

0

Konseling tidak bisa dikatakan sebagai pemberian bantuan, tapi lebih kepada membimbing dan mengarahkan individu. Konseling bisa diartikan sebagai pertemuan konselor dan konseli untuk mengidentifikasi masalah konseli, mengembangkan kemampuan diri konseli, dan memecahkan masalah konseli.

Konselor sekolah adalah orang-orang yang sudah terlatih untuk melakukan konseling. Sarjana Psikologi bisa menjadi seorang konselor jika sudah melewati pelatihan khusus untuk melakukan konseling.

Kelemahan konselor sekolah adalah:

  • Sekolah kurang menghargai konselor sekolah dan tidak mengetahui pentingnya konselor sekolah
  • Sekolah tidak mau mengeluarkan biaya lebih untuk membayar seorang konselor
  • Sekolah merasa mampu untuk menyelesaikan masalah siswa
  • Sekolah menganggap orangtua siswa dapat menyelesaikan masalah anaknya.
 Ketika seorang konselor tidak mampu mengatasi permasalahan siswa, maka biasanya siswa tersebut akan ditangani oleh psikolog pendidikan. Peluang kerja konselor sekolah sangatlah luas, karena masih banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki konselor untuk membantu mengatasi permasalahan siswa dan mengembangkan kemampuan siswa.



Asas-Asas Layanan Bimbingan "Konseling"

0


 Pelayanan bimbingan dilakukan dalam bentuk interaksi pribadi dan komunikasi antarpribadi yang bercorak membantu dan dibantu (helping relationship). Ciri-ciri dalam hubungan antarpribadi sebagai berikut:
  • Bermakna, kedua belah pihak baik konselor maupun konseli melibatkan diri sepenuhnya dalam layanan bimbingan.
  • Mengandung unsur kognitif dan efektif, karena konselor dan konseli berpikir bersama, dan konselor mampu merasakan sepenuhnya perasaan konseli.
  • Saling percaya dan saling keterbukaan.
  • Atas dasar saling memberikan persetujuan, dalam arti konseli menyetujui terjadinya komunikasi secara sukarela dan konselor menerima dengan rela permintaan untuk memberikan bantuan profesional.
  • Adanya kebutuhan di pihak konseli.
  • Adanya komunikasi dua-arah. 
  • Mengandung strukturalisasi, konselor memikul tanggung jawab yang lebih besar agar komunikasi terarah.
  • Berasaskan kerelaan dan usaha untuk bekerja sama agar tercapai tujuan yang disepakati bersama.
  • Mengarah ke suatu perubahan pada diri konseli.
  • Adanya jaminan bahwa kedua partisipan merasa aman, dalam arti konseli yakin terhadap keikhlasan konselor sehingga keterbukannya tidak akan disalahgunakan oleh konselor. 
Kondisi eksternal berpengaruh terhadap proses konseling, yang menyangkut hal-hal sebagai berikut:
  • Lingkungan fisik,
  • Penataan ruangan,
  • Bentuk bangun ruang,
  • Konselor berpakaian rapi,
  • Kerapian dalam menata barang-barang dalam ruangan,
  • Penggunaan sistem janji,
  • Konselor menyisihkan buku, catatan serta kertas di atas meja,
  • Tidak adanya peralatan rekaman berupa alat rekaman audio atau video.
Kondisi Internal, terbagi 2:
  1. Di pihak konseli,dimana siswa memiliki keinginan untuk mencari penyelesaian masalahnya, keinsafan konseli untuk memikul tanggung jawab, dan adanya keberanian serta kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya serta masalah yang dihadapi.
  2. Di pihak konselor, dimana konselor memiliki keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai dalam kehidupan, memiliki pengalaman di lapangan, kemampuan menghadapi situasi yang belum menentu, kemudahan dalam berbicara mengenai diri sendiri, memiliki konsep diri, dan refleksi atas diri sendiri. 
Teknik-teknik konseling, terdiri dari 2 yaitu:
  1. Teknik-teknik konseling yang verbal, sebagai berikut:
  • Invitation to talk
  • Acceptance, understanding
  • Reflection of content,
  • Reflection of feeling
  • Clarification of conten
  • Clarification of feeling
  • General Lead
  • Accent
  • Summary
  • Questioning/Probing
  • Feedback
  • Information giving
  • Forking response
  • Investigation
  • Structuring
  • Interpretation
  • Confrontation
  • Diagnosis
  • Reassurance/support  
  • Suggestion, advice
  • Criticism, negative evaluation 

Daftar Pustaka
Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
Media Abadi

    Layanan bimbingan "Pengumpulan data"

    2

    Pengumpulan data bertujuan untuk mendapatkan pengertian yang lebih luas, lebih lengkap, dan lebih mendalam tentang masing-masing peserta didik, serta membantu siswa dan mahasiswa memperoleh pemahaman akan diri sendiri. Alat pengumpulan data dapat berupa:
    1. Alat tes. Alat tes digunakan untuk meramalkan (memperkirakan), mengadakan seleksi, mengadakan klasifikasi, dan melakukan evaluasi. Adapun pembagian alat tes menurut aspek isi, sebagai berikut:
    • Tes hasil belajar,mengukur apa yang telah dipelajari seseorang di berbagai bidang studi.
    • Tes kemampuan intelektual,mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar.
    • Tes kemampuan khusus atau tes bakat khusus, mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, bidang pekerjaan tertentu.
    • Tes minat,mengukur kegiatan yang paling disukai seseorang.
    • Tes perkembangan vokasional,mengukur taraf perkembangan individu dalam menduduki suatu pekerjaan atau jabatan.
    • Tes kepribadian, mengukur ciri-ciri kepribadian seperti sifat karakter, gaya temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental.
         2.  Alat non tes, digunnakan dalam rangka teknik dan metode non tes, yang lebih menyoroti dimensi kualitatif tingkah laku dan kondisi kehidupan seseorang. Bentuk-bentuk alat non tes sebagai berikut: 
    • Angket tertulis,
    • Wawancara,
    • Otobiografi, merupakan karangan yang ditulis oleh siswa mengenai riwayat hidupnya pada saat sekarang.
    • Anekdota,merupakan laporan singkat tentang perilaku seseorang dan memuat deskripsi obyektif tentang tingkah laku siswa pada saat tertentu.
    • Skala penilaian, merupakan daftar yang berisi sejumlah aitem yang menunjukkan sejauh mana individu dinilai memiliki sifat atau sikap tertentu.
    • Sosiometri, merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang jaringan hubungan sosial dalam suatu kelompok.
    • Kunjungan rumah, bertujuan untuk lebih mengenal lingkungan hidup siswa, jika informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket atau wawancara.
    • Kartu pribadi,
    • Studi kasus.
    daftar pustaka
    Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
    Media Abadi

      Tenaga bimbingan di sekolah

      0

      Ada 3 kelompok personil bimbingan, yaitu:
      • Tenaga bimbingan utama, yaitu konselor sekolah, tenaga praprofesional dan guru.
      • Tenaga administrasi bimbingan : seperti kepala sekolah, pejabat kantor wilayah, atau pejabat yayasan.
      • Tenaga yang menunjang: seperti ahli psikometrik, psikolog sekolah, pekerja sosial, dokter sekolah dan psikiater.
      Klasifikasi tenaga bimbingan, sebagai berikut:
      • Konselor sekolah, yaitu tenaga profesional yang mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan.
      • Guru-pembimbing atau guru-konselor, yaitu seorang guru, disamping mengajar di salah satu bidang studi, terlibat juga dalam rangkaian pelayanan bimbingan, termasuk layanan konseling. 
      • Guru, yaitu: tenaga pengajar yang melibatkan diri dalam pelayanan bimbingan.
      • Sumber tenaga penunjang, yaitu: tenaga spesialis seperti psikolog klinis, psikiater, ahli psikometrik, dan dokter. 
      Ciri-ciri kepribadian konselor mempengaruhi efektivitas pekerjaan dalam memberikan layanan konseling. Menurut Belkin, ada 3 kualitas kepribadian,sebagai berikut:
      1. Mengenal diri sendiri (Knowing oneself). Konselor harus menyadari keunikan dirinya, kelemahan, dan kelebihannya. Untuk mengetahui apakah seorang konselor sudah dapat memahami dirinya sendiri, maka dapat dilihat dari 3 kualitas berikut: merasa aman dengan dirinya sendiri, percaya pada orang lain, dan memiliki keteguhan hati.
      2. Memahami orang lain (understanding others). Konselor harus memiliki  keterbukaan hati dan kebebasan dari cara berpikir yang kaku menurut keyakinan pribadinya. Keterbukaan hari berarti konselor tidak mengambil sikap mengadili orang lain, dan peka terhadap pikiran dan perasaan orang lain.
      3. Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain (relating to others) . Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain juga melibatkan hal-hal lain seperti: tulen atau ikhlas, bebas dari kecenderungan untuk menguasai orang lain, mampu mendengarkan dengan baik, mampu menghargai orang lain,dan mampu mengungkapkan perasaan dan pikiran secara verbal dan non verbal. 
      Hasil diskusi:
      Arahan memiliki makna yang hampir sama dengan bimbingan. Arahan lebih berupa pemberian petunjuk dalam melakukan sesuatu atau petunjuk yang langsung memberikan solusi. Sedangkan, bimbingan berupa pemberian arahan, dan juga pemberian nasihat, masukan terhadap suatu hal, sehingga individu yang diberikan bimbingan mampu menentukan pilihan dalam mencapai tujuannya.


      daftar pustaka
      Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
      Media Abadi

        15 Nov 2011

        Sharing dengan konselor (K'ganda)

        Konseling tidak bisa dikatakan sebagai pemberian bantuan, tapi lebih kepada membimbing dan mengarahkan individu. Konseling bisa diartikan sebagai pertemuan konselor dan konseli untuk mengidentifikasi masalah konseli, mengembangkan kemampuan diri konseli, dan memecahkan masalah konseli.

        Konselor sekolah adalah orang-orang yang sudah terlatih untuk melakukan konseling. Sarjana Psikologi bisa menjadi seorang konselor jika sudah melewati pelatihan khusus untuk melakukan konseling.

        Kelemahan konselor sekolah adalah:
        • Sekolah kurang menghargai konselor sekolah dan tidak mengetahui pentingnya konselor sekolah
        • Sekolah tidak mau mengeluarkan biaya lebih untuk membayar seorang konselor
        • Sekolah merasa mampu untuk menyelesaikan masalah siswa
        • Sekolah menganggap orangtua siswa dapat menyelesaikan masalah anaknya.
         Ketika seorang konselor tidak mampu mengatasi permasalahan siswa, maka biasanya siswa tersebut akan ditangani oleh psikolog pendidikan. Peluang kerja konselor sekolah sangatlah luas, karena masih banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki konselor untuk membantu mengatasi permasalahan siswa dan mengembangkan kemampuan siswa.



        8 Nov 2011

        Asas-Asas Layanan Bimbingan "Konseling"


         Pelayanan bimbingan dilakukan dalam bentuk interaksi pribadi dan komunikasi antarpribadi yang bercorak membantu dan dibantu (helping relationship). Ciri-ciri dalam hubungan antarpribadi sebagai berikut:
        • Bermakna, kedua belah pihak baik konselor maupun konseli melibatkan diri sepenuhnya dalam layanan bimbingan.
        • Mengandung unsur kognitif dan efektif, karena konselor dan konseli berpikir bersama, dan konselor mampu merasakan sepenuhnya perasaan konseli.
        • Saling percaya dan saling keterbukaan.
        • Atas dasar saling memberikan persetujuan, dalam arti konseli menyetujui terjadinya komunikasi secara sukarela dan konselor menerima dengan rela permintaan untuk memberikan bantuan profesional.
        • Adanya kebutuhan di pihak konseli.
        • Adanya komunikasi dua-arah. 
        • Mengandung strukturalisasi, konselor memikul tanggung jawab yang lebih besar agar komunikasi terarah.
        • Berasaskan kerelaan dan usaha untuk bekerja sama agar tercapai tujuan yang disepakati bersama.
        • Mengarah ke suatu perubahan pada diri konseli.
        • Adanya jaminan bahwa kedua partisipan merasa aman, dalam arti konseli yakin terhadap keikhlasan konselor sehingga keterbukannya tidak akan disalahgunakan oleh konselor. 
        Kondisi eksternal berpengaruh terhadap proses konseling, yang menyangkut hal-hal sebagai berikut:
        • Lingkungan fisik,
        • Penataan ruangan,
        • Bentuk bangun ruang,
        • Konselor berpakaian rapi,
        • Kerapian dalam menata barang-barang dalam ruangan,
        • Penggunaan sistem janji,
        • Konselor menyisihkan buku, catatan serta kertas di atas meja,
        • Tidak adanya peralatan rekaman berupa alat rekaman audio atau video.
        Kondisi Internal, terbagi 2:
        1. Di pihak konseli,dimana siswa memiliki keinginan untuk mencari penyelesaian masalahnya, keinsafan konseli untuk memikul tanggung jawab, dan adanya keberanian serta kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya serta masalah yang dihadapi.
        2. Di pihak konselor, dimana konselor memiliki keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai dalam kehidupan, memiliki pengalaman di lapangan, kemampuan menghadapi situasi yang belum menentu, kemudahan dalam berbicara mengenai diri sendiri, memiliki konsep diri, dan refleksi atas diri sendiri. 
        Teknik-teknik konseling, terdiri dari 2 yaitu:
        1. Teknik-teknik konseling yang verbal, sebagai berikut:
        • Invitation to talk
        • Acceptance, understanding
        • Reflection of content,
        • Reflection of feeling
        • Clarification of conten
        • Clarification of feeling
        • General Lead
        • Accent
        • Summary
        • Questioning/Probing
        • Feedback
        • Information giving
        • Forking response
        • Investigation
        • Structuring
        • Interpretation
        • Confrontation
        • Diagnosis
        • Reassurance/support  
        • Suggestion, advice
        • Criticism, negative evaluation 

        Daftar Pustaka
        Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
        Media Abadi

          Layanan bimbingan "Pengumpulan data"

          Pengumpulan data bertujuan untuk mendapatkan pengertian yang lebih luas, lebih lengkap, dan lebih mendalam tentang masing-masing peserta didik, serta membantu siswa dan mahasiswa memperoleh pemahaman akan diri sendiri. Alat pengumpulan data dapat berupa:
          1. Alat tes. Alat tes digunakan untuk meramalkan (memperkirakan), mengadakan seleksi, mengadakan klasifikasi, dan melakukan evaluasi. Adapun pembagian alat tes menurut aspek isi, sebagai berikut:
          • Tes hasil belajar,mengukur apa yang telah dipelajari seseorang di berbagai bidang studi.
          • Tes kemampuan intelektual,mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar.
          • Tes kemampuan khusus atau tes bakat khusus, mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, bidang pekerjaan tertentu.
          • Tes minat,mengukur kegiatan yang paling disukai seseorang.
          • Tes perkembangan vokasional,mengukur taraf perkembangan individu dalam menduduki suatu pekerjaan atau jabatan.
          • Tes kepribadian, mengukur ciri-ciri kepribadian seperti sifat karakter, gaya temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental.
               2.  Alat non tes, digunnakan dalam rangka teknik dan metode non tes, yang lebih menyoroti dimensi kualitatif tingkah laku dan kondisi kehidupan seseorang. Bentuk-bentuk alat non tes sebagai berikut: 
          • Angket tertulis,
          • Wawancara,
          • Otobiografi, merupakan karangan yang ditulis oleh siswa mengenai riwayat hidupnya pada saat sekarang.
          • Anekdota,merupakan laporan singkat tentang perilaku seseorang dan memuat deskripsi obyektif tentang tingkah laku siswa pada saat tertentu.
          • Skala penilaian, merupakan daftar yang berisi sejumlah aitem yang menunjukkan sejauh mana individu dinilai memiliki sifat atau sikap tertentu.
          • Sosiometri, merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang jaringan hubungan sosial dalam suatu kelompok.
          • Kunjungan rumah, bertujuan untuk lebih mengenal lingkungan hidup siswa, jika informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket atau wawancara.
          • Kartu pribadi,
          • Studi kasus.
          daftar pustaka
          Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
          Media Abadi

            Tenaga bimbingan di sekolah

            Ada 3 kelompok personil bimbingan, yaitu:
            • Tenaga bimbingan utama, yaitu konselor sekolah, tenaga praprofesional dan guru.
            • Tenaga administrasi bimbingan : seperti kepala sekolah, pejabat kantor wilayah, atau pejabat yayasan.
            • Tenaga yang menunjang: seperti ahli psikometrik, psikolog sekolah, pekerja sosial, dokter sekolah dan psikiater.
            Klasifikasi tenaga bimbingan, sebagai berikut:
            • Konselor sekolah, yaitu tenaga profesional yang mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan.
            • Guru-pembimbing atau guru-konselor, yaitu seorang guru, disamping mengajar di salah satu bidang studi, terlibat juga dalam rangkaian pelayanan bimbingan, termasuk layanan konseling. 
            • Guru, yaitu: tenaga pengajar yang melibatkan diri dalam pelayanan bimbingan.
            • Sumber tenaga penunjang, yaitu: tenaga spesialis seperti psikolog klinis, psikiater, ahli psikometrik, dan dokter. 
            Ciri-ciri kepribadian konselor mempengaruhi efektivitas pekerjaan dalam memberikan layanan konseling. Menurut Belkin, ada 3 kualitas kepribadian,sebagai berikut:
            1. Mengenal diri sendiri (Knowing oneself). Konselor harus menyadari keunikan dirinya, kelemahan, dan kelebihannya. Untuk mengetahui apakah seorang konselor sudah dapat memahami dirinya sendiri, maka dapat dilihat dari 3 kualitas berikut: merasa aman dengan dirinya sendiri, percaya pada orang lain, dan memiliki keteguhan hati.
            2. Memahami orang lain (understanding others). Konselor harus memiliki  keterbukaan hati dan kebebasan dari cara berpikir yang kaku menurut keyakinan pribadinya. Keterbukaan hari berarti konselor tidak mengambil sikap mengadili orang lain, dan peka terhadap pikiran dan perasaan orang lain.
            3. Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain (relating to others) . Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain juga melibatkan hal-hal lain seperti: tulen atau ikhlas, bebas dari kecenderungan untuk menguasai orang lain, mampu mendengarkan dengan baik, mampu menghargai orang lain,dan mampu mengungkapkan perasaan dan pikiran secara verbal dan non verbal. 
            Hasil diskusi:
            Arahan memiliki makna yang hampir sama dengan bimbingan. Arahan lebih berupa pemberian petunjuk dalam melakukan sesuatu atau petunjuk yang langsung memberikan solusi. Sedangkan, bimbingan berupa pemberian arahan, dan juga pemberian nasihat, masukan terhadap suatu hal, sehingga individu yang diberikan bimbingan mampu menentukan pilihan dalam mencapai tujuannya.


            daftar pustaka
            Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
            Media Abadi